Halaman

Selasa, 07 April 2009

Bukan Menantu Idaman??

Ketika Bukan Menjadi Menantu Idaman, Apa yang Hams dilakukan?

Akhlakul Karimah Akan Meluluhkan Hati

Kalau sudah menikah harus menjadikan mertua sebagai orang tua kita sendiri. Berikan hak-haknya untuk dihormati, ditolong dan disayangi. Mungkin di awal pernikahan terjadi ketidakcocokan dengan mertua, itu biasa. Apalagi ketika sang menantu bukanlah menantu idaman yang didamba.Tapi tetap harus dihormati dengan menganggapnya seperti layaknya orangtua sendiri.

Pada satu tahun pertama pernikahan masih harus adaptasi dengan sabar. Banyak mertua yang merasa kasih sayang anaknya berkurang setelah anaknya menikah. la merasa harus berbagi dengan menantu untuk mendapatkan kasih sayang dari anaknya sehingga timbul kecemburuan.Tapi dengan sikap kita yang akhlakul karimah, insya Allah hati mertua luluh oleh kelembutan hati, hingga nantiya berbalik menjadi menantu tersayang. Yang tadinya bukan menantu idaman bisa berubah menjadi menantu idaman.

Sebagai menantu kita harus bisa mengambil hati mertua, misalnya dengan selalu membawakan oleh-oleh, membelikan baju atau memperhatikan kebutuhannya. Perlu tanya pada suami apa makanan kesukaan ibu mertua. Untuk melakukan semua itu harus kerja sama dengan suami,
Mr'
dan kalau mau memberikan sesuatu, sebaiknya kita sendiri yang memberikannya, bukan suami.
Pada dasarnya setiap orang senang menjadi subjek dan objek kebaikan. Bagi yang tinggal dengan mertua, harus pandai-pandai membawakan diri, misalnya dengan ikut terjun ke dapur, melibatkan diri untuk memasak bersama mertua. Kalaupun nanti dicemberutin, jangan dibalas dengan cemberut juga. Sebaliknya, berikan senyum yang tulus dan sikap yang baik, dengan begitu insya Allah hati mertua akan luluh karena mengetahui sikap kita yang baik.

Hingga saat ini, ada kriteria di masyarakat: dalam memilih menantu, yakni memperhatikan bibit, bobot dan bebet. Menantu idaman merupakan tipe ideal oleh masyarakat. Ada anggota masyarakat yang sangat kaku ekspektas kurang bisa menerima jarak ideal .Sejauh ini orang tua sering menunjukkan kriteria menantu idamannya seperti ukuran yang ditetapkan oleh masyarakat.

Orangtua malu secara sosial ka hi mendapat menantu yang tidak sesuai dengaa anggapan masyarakat. Sehingga setelah menikah, relasi antara mertua dengai menantu jauh dari harmonis, di satu sisi teas mudah menganggap mertua sebagai orangua sendiri, sebaliknya susah pula menganggap menantu sebagai anak. Apalagi bila kecenderungan orangtua sosok dominan, yang membuat barge position menantu bersifat sangat lemah.

Untuk itu, diperlukan intensitas emosi-onal agar kedua belah pihak dapat berbicara dari hati ke hati.Tentu saja hal ini tidakgampang. Diperlukan komunikasi agar kedua pihak saling mengungkapkan dirinya masing-masing sehingga bisa terbangun suatu sudut pandang yang postih.
Segala penjajakan harus dicoba untuk mereta, semua hal yang penghambat hubunga-emosional antara keduanya.

Menantu Idaman adalah Menantu yang Menghargai Mertua
Memang sulit menjadi menantu idaman, apalagi jika sang ibu sangat posesif terhadap anak laki-lakinya. Budaya kita biasanya setelah menikah, suami ikut keluarga istri. Hal inilah yang membuat seorang ibu merasa takut
kehilangan anaknya, sehingga calon menantu sulit masuk dalam keluarga sang suami.

Banyak istri mengganggap, setelah menikah suami adalah miliknya sendiri, dengan demikian sang suami terasa dijauhkan dari keluarganya. Itulah sebabnya ibu mertua (ibunda sang suami) merasa tidak bisa menerima kehadiran sang menantu. Kategori menantu idaman setiap keluarga itu berbeda-beda, namun pada dasarnya yang dimaksud adalah menantu yang bisa mengerti dan menghargai mertua. Seyogianya sebagai pendatang baru menantu harus dapat menyesuaikan diri dengan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar